Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran industri kecil
menengah, khususnya perajin batik, dalam menopang perekonomian masyarakat
lokal di tengah berbagai tantangan seperti keterbatasan sumber daya, fluktuasi
pasar, dan tekanan sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis peran modal sosial bonding, bridging, dan linking dalam
mendukung resiliensi perajin batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten
Klaten. Penelitian ini menggunakan teori modal sosial dari Robert D. Putnam dan
Michael Woolcock serta teori resiliensi dari Reivich dan Shatte. Metode
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki peran yang
signifikan dalam mendukung resiliensi perajin batik yang tercermin dalam
berbagai aspek resiliensi. Pada modal sosial bonding, hubungan yang erat dengan
keluarga dan lingkungan terdekat mendorong munculnya regulasi emosi,
optimisme, dan empati, sehingga membantu perajin dalam menghadapi tekanan
sosial dan ekonomi. Modal sosial bridging memungkinkan perajin memperluas
jaringan sosial yang berkontribusi pada peningkatan efikasi diri dan pencapaian,
melalui pertukaran informasi, kerja sama, serta kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan. Sementara itu, modal sosial linking memberikan akses terhadap
sumber daya eksternal yang mendukung kemampuan analisis kausal dan kontrol
impuls, sehingga perajin mampu mengambil keputusan yang lebih rasional dan
strategis dalam mengelola usaha. Ketiga bentuk modal sosial tersebut saling
melengkapi dalam memperkuat kemampuan perajin dalam menghadapi tantangan
usaha. Modal sosial berperan penting dalam membentuk resiliensi perajin batik
yang bersifat kolektif.