Kesehatan adalah aset penting yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup. Namun, modernisasi telah berkontribusi pada perilaku yang tidak sehat, termasuk konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori dan lemak. Telur merupakan sumber protein hewani dengan profil gizi yang relatif lengkap. Untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, industri peternakan telah mengembangkan telur yang diperkaya dengan omega-3. Telur omega-3 ini mengandung kadar asam lemak omega-3 yang lebih tinggi dan dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar daripada telur ayam ras konvensional. Namun, telur omega-3 umumnya dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan telur ayam ras konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan price premium telur omega-3 dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan konsumen untuk membayar price premium tersebut. Studi ini dilakukan di supermarket di Kota Surakarta dan melibatkan 86 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Responden adalah konsumen yang sebelumnya pernah membeli dan mengonsumsi telur omega-3. Metode payment card dinyatakan digunakan untuk memperkirakan price premium, sementara regresi linier berganda digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Nilai price premium yang diperoleh yaitu sebesar Rp11.930. Nilai estimasi rata-rata WTP sebesar Rp 29.330 per 10 butir telur omega-3. Terdapat
surplus konsumen sebesar Rp2.481 dan Rp290. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel status
pernikahan, lama pendidikan, jumlah anggota keluarga, pendapatan, kesadaran
kesehatan, dan keyakinan berpengaruh signifikan terhadap besaran price
premium telur omega-3, sedangkan variabel usia tidak berpengaruh signifikan
terhadap price premium telur omega-3. Hasil penelitian ini dapat menjadi
acuan bagi produsen dan pemasar telur omega-3 untuk mengoptimalkan strategi
harga dan positioning produk.