Program Kota Cerdas Pangan diluncurkan di Kota Surakarta sejak 2022 sebagai respons atas peningkatan timbulan sampah rumah tangga yang mencapai 95,33 ton per hari, dengan pendampingan dua Kelompok Wanita Tani (KWT), yaitu KWT Dahlia IX dan KWT Ngudi Makmur, dalam pengelolaan limbah pangan berbasis komunitas. Meskipun kesempatan berpartisipasi telah dibuka, keterlibatan aktif anggota KWT secara mandiri dan berkelanjutan masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat partisipasi anggota KWT, tingkat kesempatan, kemauan, dan kemampuan, serta hubungan ketiga variabel tersebut dengan tingkat partisipasi dalam pengelolaan limbah pangan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif-korelasional dengan populasi sekaligus sampel sebanyak 49 anggota KWT yang diambil secara sensus. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman, dilengkapi wawancara konfirmatori. Hasil menunjukkan partisipasi timpang antartahap: tahap pelaksanaan tertinggi namun tetap berkategori rendah (mean 11,45), sedangkan perencanaan (mean 8,04), evaluasi (mean 8,43), dan pemanfaatan hasil (mean 7,18) berkategori rendah hingga sangat rendah. Tingkat kesempatan (mean 19,47), kemauan (mean 8,35), dan kemampuan (mean 9,08) anggota juga berkategori rendah. Ketiga variabel berhubungan positif dan signifikan dengan partisipasi pada kategori sedang: kesempatan (rs=0,599), kemauan (rs=0,487), kemampuan (rs=0,412). Tingginya partisipasi pada tahap pelaksanaan diduga mencerminkan mobilisasi kolektif, bukan inisiatif mandiri rumah tangga, sementara rendahnya pemanfaatan hasil menunjukkan distribusi manfaat program yang belum merata. Disimpulkan bahwa kesempatan, kemauan, dan kemampuan sama-sama berhubungan dengan partisipasi, dengan kesempatan menunjukkan keeratan hubungan tertinggi. Temuan ini merekomendasikan penguatan pelibatan anggota dalam perencanaan dan evaluasi program serta pemerataan distribusi manfaat program di tingkat rumah tangga.